Blog Stats

Followers

Menikmati Keindahan Alam Gunung Papandayan



Sekilas Kota Garut


Kalau Bandung disebut sebut sebagai Paris Van Java tak kalah keren Garut disebut juga sebagai Swiss Van Java, kenapa demikian? saya akan mencoba bahas sesuai pengetahuan saya. jika diperhatikan, diantara keduanya memiliki beberapa kesamaan salah satunya mungkin karena daerahnya yang sejuk dan berada di dataran tinggi pegunungan. Seperti halnya Swiss, Garut juga memiliki pesona alamnya yang sangat indah, seperti gunung, Air terjun, pemandian air panas, padang rumput dan masih banyak lagi, sehingga sejak zaman penjajahan dulu orang Belanda mengatakan bahwa kota Garut merupakan miniatur Swiss yang berada di pulau Jawa.

Jika Swiss memiliki Gunung Alpen, Garut memiliki Gunung Papandayan yang menjadi daya tarik utama wisatawan asing. hal ini dikarenakan wisata kawahnya yang begitu mempesona untuk dinikmati, disana terdapat Kawah Mas, Kawah Nangklak dan Kawah Manuk. Pada tahun 2003 Gunung ini mengalami erupsi yang cukup hebat, banyak kerusakan yang ditimbulkan letusan saat itu yang hingga kini sisa sisa erupsi tersebut dapat dilihat dan dinikmati oleh khalayak orang. Selain itu padang rumput yang hijau, jernihnya air sungai, taman Eidelweiss yang luas turut serta menambah kecantikan Gunung Papandayan ini.

Entah apa lagi yang bisa dibandingkan antara Swiss dan Garut saya pun masih penasaran, mungkin jika Swiss punya coklatnya yang mendunia, Garut juga mempunyai Dodol yang cetar membahana. dan masih banyak lainya yang mesti saya cari tahu agar rasa penasaran ini terbayar,hehe yang jelas saya akan menceritakan perjalanan saya di Gunung Papandayan yang menjadi perhatian pertama orang asing pergi kesini.

Day 1
25 Januari 2013

Pendakian Gunung Papandayan

Seminggu yang lalu tepatnya tanggal 25 Januari 2013 bersama kawan - kawan, saya berkunjung ke kota yang di juluki Swiss Van Java itu untuk mendaki Gunung Papandayan. perjalanan dimulai pada Juma't malam dari Terminal Lebak Bulus Jakarta, Armada bus Primajasa yang saya tumpangi bergerak meninggalkan terminal pukul 21.37,  tarif bus ini adalah 35rb perorang dengan kelas Ekonomi AC tanpa ada fasilitas toilet, untuk para perokok jangan khawatir karena bus ini menyediakan smoking room pada kursi bagian belakang. pukul 02.04 kemudian saya sampai di Terminal Guntur, Kota Garut.


Primajasa kelas Ac Ekonomi

Day 2
26 Januari 2013


( Terminal Guntur Kota Garut Pukul 02.04 )

Untuk yang suka wisata Hiking banyak akses dapat ditempuh untuk bisa sampai disini, Jalur umum yang paling sering digunakan adalah melewati Desa Cisurupan. Dari terminal Guntur kita dapat menggunakan angkutan umum seharga 5rb dengan jarak tempuh sekitar 30 menit - 1 jam untuk menuju kesana. Namun karena saya tiba di sini dini hari, angkutan sudah jarang sekali terlihat, padahal tahun lalu ketika saya kesini banyak sekali angkutan kalong yang masih beroperasi mengangkut para penumpang yang tiba di terminal dini hari. cukup lama saya menunggu, Hingga saya berinisiatif mengajak rekan pendaki yang saya temui di terminal untuk mencarter sebuah mobil carry menuju cisurupan dengan harga 120 dibagi 9 orang. pukul  03.47 saya bergerak menuju Cisurupan.

( Cisurupan Gunung Papandayan Pukul 04.28 )

Pukul 04.28 saya tiba di Cisurupan, dan beristirahat di masjid raya cisurupan untuk menunggu datangnya adzan subuh. Dari jalan raya Cisurupan kita bisa melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan pick up bertarif 100rb untuk sekali jalan, dengan maksimal penumpang 10 orang. saya yang saat itu datang ber4 bergabung dengan pendaki lain untuk menumpang pick up agar lebih murah membayar sewa pick up tersebut. jarak dari Cisurupan menuju pintu gerbang pendakian berkisar 9km, dengan jalan aspal yang cukup parah, tak jarang penumpang dalam pick up teromabang ambing atau bahkan hampir terlempar keluar seperti yang dialami pendaki yang saya kenal disini. pukul 07.00 saya tiba di pelataran parkir atau biasa disebut Camp David setelah 40 menit berada di pick up

Masjid raya cisurupan


( Camp David Gunung Papandayan Pukul 06.20 )

Setibanya di camp david pengunjung akan disajikan pemandangan gunung Papandayan dengan Kawahnya yang begitu memukau. di pelataran parkir ini banyak terdapat warung - warung yang menjajakan berbagai hidangan, menurut pengalaman saya harga makanan setiap warung disini berbeda - beda, dari mulai biasa saja sampai cukup mahal. disekitar pelataran parkir banyak spot - spot untuk mendirikan tenda, buat anda yang malas untuk mendaki dapat mendirikan tenda di area ini. setelah membayar retribusi seharga 2000 per orang, tepat pukul 07.40 saya memulai pendakian.

Pelataran parkir atau camp david

Awal pendakian jalur didominasi oleh batu batuan vulkanis serta disekeliling jalur banyak ditumbuhi pohon cantigi. jalur akan terus datar dan sedikit menanjak sampai tepi kawah lalu jalur akan berubah menanjak kembali. Gunung Papandayan memiliki 2 komplek Camp Site favorit, Pertama Tegal Alun, merupakan sebuah camp site yang sangat luas dengan ditumbuhi pohon Eidelwess disetiap sudutnya, Di sebelah selatan terdapat rawa dimana terdapat air untuk memenuhi kebutuhan pendaki tapi berhati hatilah karena disinyalir kompleks Tegal Alun ini masih banyak sekali babi hutan yang berkeliaran.

Jalur awal pendakian

Kedua Pondok Saladah, Merupakan sebuah camp site yang cukup luas hampir mirip dengan Tegal Alun, namun pohon eidelweiss yang tumbuh disini tak sebanyak seperti di Tegal Alun. Pondok Saladah merupakan camp site favorit para pendaki, karena jalur menuju Pondok Saladah terbilang lebih mudah dibandingkan dengan Tegal Alun, di Pondok Saladah pengunjung dapat menikmati pemandangan dapur kawah yang selalu mengeluarkan asap putihnya ke udara, pemandangan tersebut indah untuk dinikmati dengan bercengkrama sambil minum kopi, dan untuk persediaan air disini pengunjung tak perlu risau, karena di Pondok Saladah terdapat sungai kecil untuk memenuhi kebutuhan para pendaki, airnya sangat jernih dan segar.

Untuk menuju Camp Site Tegal Alun pengunjung dapat lurus terus melewati kawah lalu melewati kompleks hutan mati dan tiba di Tegal Alun, atau apabila pengunjung ingin menuju Camp Site Pondok Saladah dari tepi kawah bisa mengambil jalur kekanan terus sampai tiba di Pondok Saladah. saya yang malas dengan jalur ekstrim menuju Tegal Alun memilih mengambil jalur kanan menuju Pondok Saladah dan berencana esok hari mengunjungi Tegal Alun.


Kawah Gunung Papandayan

Asap yang dihasilkan oleh kawah belerang membuat mata saya pedih dan sedikit sesak napas, seringkali saya mengucek mata karena asap yang sangat memedihkan itu. lepas dari kawah,  jalur pendakian akan berubah menjadi menurun lalu menyebrangi sungai kecil kemudian menanjak kembali hingga tiba di  lawang angin, Lawang Angin yang berarti pintu angin adalah jalur pendakian yang dihimpit oleh dua tebing seakan membentuk pintu, dan angin yang dimaksud adalah angin yang bertiup diantara dua tebing tersebut, sehingga tempat ini disebut Lawang Angin. saya tiba di Lawang Angin pukul 09.34


pemandangan dari lawang angin


( Lawang Angin Gunung Papandayan Pukul 09.34 )

Lawang Angin merupakan sebuah dataran yang banyak ditumbuhi rumput rumput hijau, disini pengunjung dapat menikmati pemandangan Kawah Papandayan dengan padang rumputnya yang hijau, mungkin ini adalah salah satu pemandangan yang membuat Garut dikatakan mirip dengan Swiss. Apabila pengunjung ingin menikmati pesona matahari terbit, pengunjung dapat mengambil jalan sedikit kekanan dari Lawang Angin dan akan ditemui sebuah camp site untuk menikmati pesona matahari terbit, di Tegal Alun maupun Pondok Saladah pesona matahari terbit tidak akan terlihat, karena terhalang oleh bukit bukit disekelilingnya. Sedangkan untuk menuju Pondok Saladah, dari Lawang Angin pengunjung dapat mengambil jalan ke kiri mengikuti jalur lorong yang terbentuk secara alami oleh pepohonan dan lurus saja sampai tiba di Pondok Saladah. saya bergerak meninggalkan Lawang Angin pukul 09.50

Lawang Angin, lorong didepan adalah jalur menuju Pondok Saladah

( Pondok Saladah Gunung Papandayan Pukul 10.02 )

Pondok Saladah pagi ini cukup ramai para pendaki, sampai saya kesulitan mencari spot untuk mendirikan tenda. sekitar pukul 14.00 awan hitam mulai berdatangan dan rintik hujan sudah turun membasahi bumi, fuh dengan terpaksa sore ini saya habiskan hanya didalam tenda karena hujan yang deras membuat aktifitas terbatas. mendaki gunung saat musim hujan memang kurang menyenangkan, selain ancaman resiko yang lebih tinggi aktifitas juga terganggu. tapi buat saya, pendakian kali ini hanya untuk mencari ketenangan dan sejuknya udara pegunungan, tak apalah tidak dapat menikmati pemandangan yang indah, asal nuansa yang saya inginkan terwujud saya sudah merasa cukup puas. sayapun terlelap  setelah lahap memakan sayur sop yang menjadi menu santap malam ini. badai malam ini cukup keras, hembusan angin membuat malam ini semakin dingin, dingin yang cukup menusuk tulang.


Camp site Pondok Saladah

Day 3
27 Januari 2013


( Pondok Saladah Gunung Papandayan Pukul 07.00 )

Hiruk pikuk suara pendaki pagi ini membuat saya terbangun dari tidur, pagi itu seperti dipasar, ramai sekali orang ber wara - wiri di sekitar Pondok Saladah, sampai - sampai saya mau buang air kecil saja kesulitan karena hampir disetiap sudut Pondok Saladah berisi tenda - tenda para pendaki. Pagi ini saya berencana untuk menuju Tegal Alun yang terletak dibalik bukit disebelah barat Pondok Saladah. Untuk menuju Tegal Alun dari Pondok Saladah terdapat dua jalur yang dapat dilalui, Jalur pertama kita dapat melipir kekanan lalu menanjak mengikuti jalur bebatuan hingga tiba di Tegal Alun. Sedangkan yang kedua kita melipir kekiri mengikuti jalur air hingga tiba di kompleks hutan mati lalu mengambil kekanan menanjak dan tiba di Tegal Alun. 

Tegal Alun ada dibalik bukit 

Setelah makan pagi, sekitar pukul 09.00 saya bergerak menuju Tegal Alun melalui jalur pertama, Batu batuan besar menjadi pijakan saya selama mendaki menuju Tegal Alun dan terkadang saya pun harus sedikit memanjat untuk melewati batu batuan tersebut, dari jalur batu ini kita dapat melihat pemandangan Pondok Saladah yang begitu luas dan hijau, tenda yang saya tinggalkan di sana pun terlihat kecil dari sini.


view Pondok Saladah dari Jalur 1 menuju Tegal Alun


( Tegal Alun Gunung Papandayan Pukul 10.00 )

Seperti yang saya bayangkan, Tegal Alun mirip sekali dengan surya kencana di Gunung Gede, hanya saja eidelweiss disini lebih banyak,menurut saya. saya berjalan menuju rawa disebelah utara Tegal Alun dengan menyusuri pohon - pohon Eidelweiss setinggi dada, andai saja saat itu bunga eidelweiss sedang bermekaran, tampak saya sedang berlarian dengan sesosok wanita saat seperti itu sudah mirip sekali dengan adegan film India,hehe

Rawa yang ada di Tegal Alun

Disini terdapat juga rumput - rumput hijau yang unik, bentuknya bulat bulat dan tersebar diseluruh Tegal Alun, entah apa yang menyebabkan rumput disini berbentuk seperti itu, lucu sekali saya melihatnya. tak lama disini saya begegas kembali ke Pondok Saladah, untuk menuju Pondok Saladah saya memlih jalur Hutan Mati. dari tegal alun ambil arah ke selatan nanti diujung Tegal Alun belok kiri. jalur disini cukup licin, tanah putih keemasan yang basah membuat perjalanan turun sedikit menantang, sekitar 15 menit berjalan saya tiba di Hutan Mati, Hutan Mati merupakan kawasan hutan yang mati akibat letusan Gunung Papandayan, tidak seperti hutan pada umumnya yang dipenuhi dedaunan, di Hutan Mati hanya terdapat batang pohon yang sudah mati dan menghitam. jika kabut sedang turun, nuansa di Hutan Mati akan terasa sekali, terkesan hutan yang mencekam dan menyeramkan,hehe

Rumput bulet - bulet di Tegal Alun

Dari hutan mati untuk menuju Pondok Saladah kita dapat mengambil jalur ke kiri terus, tapi untuk yang ingin langsung turun ke Camp David bisa lurus terus sampai tiba disana. sedangkan saya mengambil jalur ke kiri untuk menuju Pondok Saladah.

Kawasan Hutan Mati

( Pondok Saladah Gunung Papandayan Pukul 11.30 )

Pondok Saladah siang ini sudah mulai ditinggalkan para pengunjungnya, parahnya banyak sampah yang sengaja tidak dibawa turun oleh empunya, Pondok Saladah yang indah kini tercemar oleh orang - orang tak bertanggung jawab, btw saya disini dapet hibahan makanan dari rekan pendaki Kaskus OANC yang kebetulan ketemu disini. pukul 15.00 rintik hujan mulai membasahi bumi ini, saya yang berencana menginap di Lawang Angin memutuskan untuk tidak beranjak kesana, karena hujan semakin lebat membasahi Pondok Saladah. yang tersisa di Pondok Saladah hanya saya ber 4 dan seekor anjing penduduk. sungguh tenang Pondok Saladah hari ini, tanpa hiruk pikuk pendaki dan gangguan lainya, nuansa beginilah yang saya inginkan.

Pada malam hari hujan rintik masih menyiangi Pondok Saladah, suhu menunjukan angka 13.6 derajat membuat malam ini semakin dingin. Sinar rembulan menerangi hingga setiap sudut Pondok Saladah bisa terlihat dengan jelas. tak ada yang saya lakukan malam ini selain memasak dan bercengkrama demi mengisi malam terakhir Pondok Saladah.

Hanya tersisa 2 tenda di Pondok Saladah


Day 4
28 Januari 2013


( Pondok Saladah Gunung Papandayan Pukul 06.30 )

Cuaca pagi ini cukup dingin, membuat saya enggan beranjak keluar dari kantung tidur hingga akhirnya saya terpaksa keluar tenda karena perut mengalami kontraksi dan harus segera dikeluarkan,hehe tidak seperti kemarin, hari ini cukup mudah saya menemukan spot untuk buang air. Hari ini saya akan pulang ke Jakarta, sebenarnya saya masih ingin berada disini, namun karena waktu yang lagi - lagi jadi penghambat saya untuk berpetualang, esok hari saya harus mengikuti UAS semester ini. 

Setelah makan pagi dan membereskan perlengkapan saya pergi meninggalkan Pondok Saladah dan anjing penduduk yang malang untuk kembali ke rumah. pukul 09.27 saya bergerak meninggalkan Pondok Saladah.


Menu santap pagi ini

( Lawang Angin Gunung Papandayan Pukul 09.40 )

Sekitar 10 menit berjalan saya tiba di Lawang Angin, disini saya bertemu segerombolan warga sekitar yang hendak mencari kayu bakar menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi agar bisa berjalan dimedan pegunungan. tak lama berselang saya melanjutkan perjalanan turun


video


( Kawah Gunung Papandayan Pukul 11.00 )

Kawah Papandayan hari ini didatangi oleh banyak turis asing, memang tidak dipungkiri bahwa kawah ini begitu mempesona hingga turis asing pun pada berdatangan kesini. jadi kenapa harus keluar negri kalau orang asing saja pada datang kesini ujar saya dalam hati.


foto dikawah

( Camp David Gunung Papandayan Pukul 12.05 )

Pelataran parkir atau biasa disebut Camp David siang ini begitu sepi, tidak ada satupun warung makan yang buka. saya yang baru tiba berisitirahat di pos pendakian yang dikelola oleh pemuda sekitar, setelah berbasa basi sayapun melanjutkan perjalan turun menuju Cisurupan menggunakan pick up seharga 80rb 

( Cisurupan Gunung Papandayan Pukul 12.40 )

Sesampainya saya langsung lanjut menggunakan angkutan umum menuju Terminal Guntur, sumpek sekali didalam angkutan umum tersebut, bagaimana tidak berdus dus barang dan penumpang dipaksakan masuk kedalam angkutan yang kecil ini, hingga kami harus duduk berhimpit himpitan dengan penumpang lainnya. tarif angkutan ini 7rb sampai Terminal Guntur.

( Terminal Guntur Kota Garut Pukul 13.30 )

Banyak sekali para kenek dan calo yang menghampiri saya untuk menawarkan angkutan menuju Jakarta, namun karena saya sudah terbiasa menggunakan armada bus Primajasa saya tolak tawaran mereka. Bus yang saya tumpangi bergerak meninggalkan Terminal Guntur pukul 14.00

( Terminal Lebak Bulus Jakarta Pukul 18.03 )

Tepat adzan magrib saya tiba di Terminal Lebak Bulus, lalu berpisah dengan kawan - kawan untuk kembali kerumah masing masing.


Rincian Biaya pribadi :

Terminal Lebak Bulus JKT - Terminal Guntur GRT via Primajasa     : Rp. 35.000
Terminal Guntur GRT - Cisurupan via Carter                                  : Rp.  13.000
Cisurupan - Camp David via Pick Up                                               : Rp.  10.000
Retribusi                                                                                      : Rp.    2.000
Camp David - Cisurupan Via Pick Up                                              : Rp.   20.000
Cisurupan - Terminal Guntur GRT Via Angkutan Umum                   : Rp.     7.000       
Terminal Guntur GRT - Terminal Lebak Bulus via Primajasa            : Rp.   35.000          
-------------------------------------------------------------------------------------------------- +
TOTAL                                                           : Rp. 122.000
   

Terima kasih gue ucapkan kepada:

* Allah SWT
* Kedua Orang Tua gue
* Samastha Buana
* Kaskus OANC

* Rekan seperjalanan
   1.Bang Rudi
   2.Difky
   3.Librian
   
NB: Budayakan comment setelah membaca ya :D

Read More... - Menikmati Keindahan Alam Gunung Papandayan

Menjelajahi Gunung Raung + Kawah Ijen #Seven Summit Java Part 3

#PROLOG

Gunung Raung menjadi destinasi ketiga dari rangkaian acara pendakian 7 puncak tertinggi di pulau jawa gue, setelah sebelumnya telah berhasil mendaki Gunung Slamet dan Gunung Semeru. Gunung Raung terdapat di Provinsi Jawa Timur, tepatnya di kabupaten Bondowoso. Gunung yang terkenal dengan puncak sejatinya ini memiliki ketinggian 3.332 Mdpl( Meter Diatas Permaukaan Laut). Secara ilmu geologi Gunung Raung memiliki jenis Stratovulcano, artinya gunung berapi yang bentuknya mengerucut ke atas terbentuk dari lava dan abu vulkanik yang mengeras CMIIW.

Untuk mendaki Gunung Raung banyak akses yang dapat dilalui, bisa melalui Desa Kalibaru, Desa Sumberwringin dan Desa Glenmore. dari ketiga jalur tersebut kita dapat mencapai puncak Raung dengan ketinggian serta tantangan yang berbeda beda. Jalur Kalibaru terkenal dengan puncak sejatinya, dimana untuk menggapai puncak sejati ini dibutuhkan keahlian climbing dan tali menali, Glenmore memiliki puncak bernama Glenmore itu sendiri, terakhir Sumberwringin yang menjadi akses pendakian pada umumnya dengan puncaknya bernama(gakada kayaknya).oiya informasi diatas hanya menurut sepengetahuan gue mohon dikoreksi jika ada kesalahan.

Pendakian kali ini akan dilalui bersama 6 rekan gue, pada awalanya tujuan utama pendakian ini adalah ke Gunung Argopuro, namun sehari menjelang keberangkatan, Gunung Argopuro dinyatakan ditutup untuk pendakian karena mengalami kebakaran hutan, sehingga gue dan tim memutuskan untuk mendaki Gunung Raung yang kebetulan diantara gue ber6 belum ada yang pernah kesini sebelumnya. diantara gue ber6 1 orang akan bergabung dengan tim di kota Surabaya. Tema dalam pendakian ini adalah ( " Smile Youuuu Don't Cry ") *ngomongnya ala sule :p


DAY 1  
03 September 2012


( Stasiun Senen Poncol Jakarta Pukul  13.29 )

Kereta Api Kertajaya yang akan membawa gue ke Surabaya akan tiba di Stasiun Poncol pukul 15.45. gue dan tim smile you don't cry tiba terlalu awal sekali, semua itu dilakukan untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan, contohnya seperti trip Seven Summit Java part 2 gue menuju Gunung Semeru, dimana salah satu temen gue yang di amanahi membawa tiket kereta datang terlambat. hal hal seperti itu gue hindari banget diperjalanan kali ini, karena selain rugi waktu rugi uang juga maaan! sekitar jam 15.20 Kereta Api Kertajaya tiba di stasiun poncol, gue dan tim bergegas masuk kedalam peron untuk check in(ceilah naik kereta check in :p) 

Peraturan PT.KAI kali ini sedikit berbeda dengan sebelumnya, nama yang tertera didalam tiket harus sesuai dengan Ktp penumpang, jadi buat yang suka beli tiket di calo hati - hati anda akan merugi, karena jika tidak bisa menunjukan KTP sesuai nama yang tertera di tiket, dipastikan anda tidak bisa pergi ke kota tujuan anda menggunakan kereta api. tepat pukul 15.45 Kereta Api mulai bergerak meninggalkan Stasiun Senen.......

Seperti biasa perjalanan menggunakan kereta, terlebih lagi kereta ekonomi banyak pedagang yang wara wiri memperjual belikan barang daganganya, pemandangan seperti ini sudah biasa bagi orang yang sering berpergian menggunakan kereta api kelas ekonomi, barang yang diperdagangkan pun beraneka ragam, dari mulai makanan, mainan, buah buahan, alat tulis, tts dan lain sebagainya. 

Gue bersama ke 5 rekan lainya cuma ngabisin waktu dengan ngobrol,main gaple dan denger musik. bahkan baru beberapa jam kereta jalan temen gue udah ada yang pelor. alias nempel molor

tuhkan pelor...

Kereta api mulai bergerak menju Jawa Tengah, menjelang malam rasa bosan sudah mulai terasa, lagi - lagi kami harus membunuh rasa bosan dengan melakukan segala aktifitas, seperti menyusuri gerbong dari ujung ke ujung, ngobrol sama penumpang kereta lainya dan tentu temen gue yang pelor kembali nempel dan molor lagi


nih anak tiba tiba ngilang, gak taunya tidur di bordes 

iseng dikit :p
  

DAY 2 
04 September 2012


( Stasiun Pasar Turi Surabaya Pukul 05.30 )

Kereta Api Kertajaya yang gue beserta tim tumpangi tiba di Stasiun Pasar Turi Surabaya pukul 05.30, Sehingga kurang lebih 14 jam gue berada didalam kereta. sesampainya, kami berniat langsung mencari tiket kereta menuju Banyuwangi karena menurut catatan yang gue dapet dari internet, akses selanjutnya setelah sampai surabaya adalah menumpang kereta ke banyuwangi. berhubung tiket kereta ekonomi menuju Banyuwangi hanya dijual di stasiun Gubeng Surabaya. Jarak Stasiun Gubeng dari Stasiun Pasar Turi lumayan jauh, untuk mempersingkat waktu maka kami mencarter sebuah mobil kesana dengan harga 50rb. Disini rekan gue datang dan bergabung berasama tim, jadi total tim berjumlah 6 orang. pukul 07.00 kami bergerak menuju Stasiun Gubeng

Pose di Stasiun Pasar Turi


( Stasiun Gubeng Baru Surabaya Pukul 07.30 )

Setibanya di Stasiun Gubeng Baru kami langsung menuju loket karena khawatir kehabisan. setelah antri dan berada didepan loket, ternyata disini hanya jual tiket kereta kelas bisnis untuk menuju Banyuwangi, wow kami cukup terkejut melihat harganya,kalo tidak salah 80rb. Tiket kereta kelas Ekonomi menuju Banyuwangi dijual di Stasiun Gubeng lama :hammer: otomatis kami harus berjalan kaki memutari Stasiun Gubeng Baru untuk menuju Stasiun Gubeng Lama (terasa useless udah nyarter -_-)

Diloket Stasiun Gubeng Lama keadaan sangat ramai para penumpang yang sedang mengantri, gue kebagian tugas untuk ngantri sedangkan yang lain menunggu di luar Stasiun. tapi sialnya tiket menuju Banyuwangi SOLD OUT! setelah berdiskusi kami memutuskan mengambil jalur darat dan langsung menuju Bondowoso yang nanti akan disambung kembali menggunakan angkutan umum menuju pos pendakian Sumberwringin.

Dari Stasiun Gubeng kami akan menuju Terminal Bungur Asih yang dimana kami akan berganti bus menuju Bondowoso disana.pukul 08.30 kami meninggalkan Stasiun Gubeng Lama dengan menumpangi sebuah bus



Tim Smile you don't Cry


( Terminal Bungur Asih Surabaya Pukul 09.30 )

Di terminal Bungur Asih kami segera menanyakan kepada petugas angkutan menuju Bondowoso, setalah tanya sana sini, didapat info bahwa di terminal Bungur Asih tiket tidak dijual di loket, melainkan bayar diatas bus, setelah memilah milih angkutan yang cocok, didapatlah sebuah armada bus bernama Mira(kalo ga salah) yang akan membawa kami menuju Bondowoso. Bus akan bergerak meninggalkan Surabaya pada pukul 10.30, waktu menunggu kami habiskan di Terminal untuk Mandi dan makan pagi
tepat pukul 10.30 bus bergerak meninggalkan Terminal Bungur Asih Surabaya.

selagi  yg lain mandi kami bergiliran jaga barang di terminal Bungur Asih

Bus yang gue tumpangi cukup keren, baru satu bulan dipakai, jadi masih mulus dan kinyis kinyis :o, penumpang didalam bus tidak banyak masih terdapat bangku kosong didalamnya, perjalanan menuju bondowoso akan ditempuh sekitar 7 jam. tidak seperti di kereta, didalam bus gak banyak yang bisa dilakuin, paling cuma pelor dan pelor sampe kepala pusing karena kebanyakan molor,haha

AC nya dingin banget cuuuuyy

molor sampe puyeng :hammer:

( Terminal Bondowso Pukul 15.30 )

Tepat pukul 15.30 gue dan tim tiba di terminal Bondowoso, jauh dari perkiraaan dimana informasi yang gue dapat Surabaya - Bondwoso ditempuh dalam waktu kurang lebih 7 jam, namun gue dan tim hanya 5 jam untuk sampai disini.

Terminal Bondowoso

Setibanya di terminal gue dan tim mampir diwarung mie untuk sekedar mencari informasi akses trasnportasi menuju basecamp Gunung Raung, dari infromasi yang didapat untuk menuju Basecamp Pendakian dari terminal Bondowoso cukup jauh, kalo naik angkot harus 2 kali naik. dari terminal Bondowoso menaiki sebuah angkutan umum turun di Gardu Atak lalu naik angkot lagi menuju Basecamp pendakian di Desa Sumberwringin. tapi ternyata angkutan kesana jam segini udah gak ada :hammer: mau gak mau kita harus cari carteran atau nginep di terminal Bondowoso satu malam dan keesokan harinya baru bergerak ke Basecamp pendakian.

Menu makanan di warung Terminal Bondowoso

Setelah didiskusikan dengan tim, dengan alasan mempersingkat waktu maka tim deal untuk menyewa sebuah angkutan yang kebetulan ibu penjual mie punya contactnya. Sambil menunggu carteran gue dan tim menyempatkan mengisi perut di warung ibu ini. Disini temen gue sempet belanja sayur untuk keperluan logistik kami selama digunung, karena memang kami belum beli bahan logistik apapun untuk pendakian. Selang beberapa menit bapak pemilik mobil cateran datang, setelah nego harga maka gue dan tim segera menaikan barang barang ke dalam angkot tesebut. tepat pukul 16.30 gue dan tim bergerak menuju Basecamp Pendakian

Pose depan mobil carteran,haha *norak


( AlfaMart Bondowoso Pukul 18.17 )

Belanja logisitik dan tarik tunai di Alfamart, kayaknya Alfamat ini satu satunya toko yang buka ampe malem, soalnya daritadi nyari warung susah bener :hammer:. oiya keadaan Bondowoso itu sedikit mencekam(lebay) tapi beneran kotanya sepi banget udah gitu gelap cuuuy. Setelah belanja logistik yang berjibun(banyak banget cuy), pukul 18.30 mobil carteran mulai bergerak menuju basecamp pendakian

( Basecamp Pendakian Desa Sumberwringin Pukul 19.30 )

Gue dan tim tiba di Basecamp pendakian Gunung Raung setelah cukup jauh menaiki angkot carteran dari Terminal Bondowoso. Di Basecamp pendakian gue langsung masuk dan menemui Ibu endang, Beliau adalah pemilik resort yang kebetulan dijadikan Basecamp pendakian. Bentuk Basecamp ini merupakan bangunan tua, terkesan seperti villa kompeni jaman dulu dan serem brooo,hihi untuk para pendaki yang mempunyai kocek lebih bisa menyewa kamarnya, tarifnya sekitar 75 - 150 rb permalam (gue lupa lupa inget ) sedangkan gue dan tim cuma bisa numpang tidur di suatu bangunan berbentuk rumah yang dijadikan gudang oleh Ibu Endang ini. Buat kami para pendaki yang gak berkocek dalam sudah lebih dari cukup Gudang itu untuk kami tiduri malam ini.


Basecamp Pendakian Gunung Raung *foto diambil pagi hari


Setelah memesan teh hangat dan makan malam gue segera menuju gudang tersebut untuk meletakan peralatan pendakian. Didalam gudang gue bertemu dengan rekan pendaki dari HIMPALA ESA UNGGUL  Universitas Esa Unggul Jakarta. mereka turun dari Gunung Raung kemarin sore, tanpa ragu gue pun berkenalan dan menggali informasi seputar gunung kepada 3 rekan pendaki ini. Setelah sedikit bercerita tidak disangka ke 3 orang sakti ini memiliki sepasang dengkul dobel gardan dan napas yang panjang selayaknya tarikan karbu RX King :matabelo:

Keadaan dalam Gudang tempat gue dan tim tidur, ada sebuah tempat tidur tua tanpa kasur,sofa tua dan perabotan dapur Bu Endang

Mereka bertiga sebelum mendaki Gunung Raung telah berhasil mencapai puncak Gunung Argopuro, gue cukup terkejut mereka bisa mendaki Gunung Argopuro. karena dari informasi yang gue dapet Gunung Argopuro sedang kebakaran, sehingga membuat gue dan tim yang berniat awal ke Gunung Argopuro memutuskan melipir ke Gunung Raung. Tapi setelah mereka bercerita ternyata gue jadi tau bahwa ternyata tim mereka yang menemukan api di Gunung Argopuro pertama kalinya, tepatnya ketika mereka dipuncak Gunung Argopuro, mereka sempat terjebak api dan coba memadamkan, tapi apa daya angin yang begitu kencang  menyebabkan rumput dan dedaunan kering cepat tersambar api. Mereka pun segera meluncur ke pos pendakian Argopuro dan melaporkan kebakaran yang mereka temukan kepada petugas penjaga.gue sempet diperlihatkan video dan foto kebakaran yang terjadi disana.


Santap makan malam *masakan bu Endang enak banget man! apalagi sambelnya bikin ngeces ngeliatnya :o

Setelah menyantap makanan dan minuman hangat dari ibu Endang gue dan tim segera tidur untuk menyiapkan tenaga pendakian esok hari. sekitar pukul 21.30 gue dan tim sudah terlelap.



DAY 3  
05 September 2012


( Basecamp Pendakian Gunung Raung Pukul 06.57 )

Pagi ini cuaca cukup dingin, padahal ketinggian basecamp ini hanya 680 mdpl membuat gue males keluar dari gudang. Tapi semua itu hanya berlangsung sebentar ketika perut sudah mulai berkerucuk dan harus segera diisi, gue segera keluar gudang menemui temen gue yang sedang ngopi didepan dapur rumah Bu Endang. gue ikut bergabung menikmati pagi itu dengan secangkir kopi asli bondowoso dan sebatang rokok sambil menunggu makan pagi yang di buat Bu Endang siap saji

Masakan Bu Endang dengan sambelnya yang maknyuss

Setelah makan pagi usai, rekan pendaki dari HIMPALA ESA UNGGUL three mas kentir ini pamit untuk melanjutkan perjalananya menuju Lombok, mereka bertiga ingin melanjutkan pendakian ke Gunung Rinjani. bener bener dengkul dobel gardan nih orang pada :matabelo:


Makan pagi bareng anak Himpala Esa Unggul

Sambil repacking alat pendakian kembali para tukang ojek yang kami sewa sudah tiba, untuk menuju pintu hutan kami harus menaiki ojek, karena apabila dilalui dengan berjalan kaki perjalanan akan menghabiskan waktu 3 - 4jam melalui jalan aspal dan hutan karet yang menyeramkan. oiya karena disini daerah Jawa Timur orang asli sini berbicara menggunakan bahasa madura, jadi kalau mereka saling ngobrol gue dan tim hanya bisa melongo, berasa ada di planet lain -_-

Tukang ojek yang udah stay diplataran parkir Basecamp Pendakian

Setelah repacking selesai gue dan tim berpamitan dengan Bu Endang setelah sebelumnya mengisi data pendakian di buku tamu. tepat pukul 10.00 gue dan tim berangkat menggunakan ojek menuju pondok montor, yaitu sebuah dataran (tanpa pondok) ditengah hutan tempat para petani labu meletakan motor dan kendaraan lainya. fyi Gunung Raung sama sekali tidak ada mata air, jadi dari Basecamp pendakian kita harus bawa air sebanyak banyaknya

Buku tamu pendaki Gunung Raung

Perjalanan menuju Pondok Montor dari Basecamp Pendakian didahuli jalur aspal yang cukup baik walaupun ada kerusakan di beberapa titik lalu dilanjuti jalur makadam berdebu kemudian jalur tanah setapak ditengah hutan karet. sumpah gue sempet deg degan pas tukang ojek masuk jalur tanah setapak di hutan karet, gue kira mikirnya mau dibawa kemana aja, abisan gak jelas banget jalurnya, seradak seruduk kesana kesini kalo meleng sedikit kepala kesambet dahan pohon,haha


balapan :p

naik ojek seneng bener nih anak


( Pondok Montor Gunung Raung Pukul 10.25 )

Pondok montor, awalanya gue kira tempat ini adalah sebuah pondok terbuat dari bale bale bambu dimana pondok tersebut tempat para petani beristirahat apabila sedang bekebun, tapi nyatanya disini hanya sebuah dataran yang cukup luas, tidak ada satupun penujuk tempat bahwa disini adalah pondok montor. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju pintu hutan, gue dan tim menyempatkan istirahat sebentar disini, karena memang naik ojek sambil bawa keril yang berat membuat badan pegel pegel. oiya masing masing dari anggota tim membawa sekurangnya 8 botol air mineral 1,5 liter, sehingga beban tas tim kurang lebih 25 - 30 kilo, gue sendiri merasa baru kali ini naik gunung bawa tas seberat ini :hammer: belum lagi ditambah logistik dan peralatan lainnya. sekitar pukul 10.35 gue dan tim bergerak melanjutkan pendakian


pose di pondok montor

kalimat penyemangat yg ada di permen kiss haha


( Pintu Hutan Gunung Raung Pukul 11.13 )

Setelah berjalan selama 40 menit gue tiba di pintu hutan, perjalanan dari pondok montor menuju pintu hutan didominasi oleh pohon labu dan rumput - rumput kering yang sudah menghitam terbakar. kondisi jalur merupakan tanah berdebu datar dan sedikit menanjak sesampainya dipintu hutan gue dan tim sempet isitirahat sebentar, sekedar meluruskan kaki dan mengatur napas

ngaso brooo

Setelah istirahat ini tim mulai sedikit terpecah, 2 orang dari rekan gue yang kebetulan memiliki dengkul dobel gardan jauh meninggalkan gue ber4, sehingga waktu gue dan mereka sangat berbeda. Tujuan kami adalah pondok demit tim berencana akan bermalam disana. 

Perjalanan dari Pintu Hutan menuju Pondok Sumur yaitu adalah pos pertama pendakian Gunung Raung terbilang cukup mudah namun melelahkan karena track yang akan dialalu cukup jauh, Jalur yang akan dihadapi adalah datar menanjak dan menurun dengan didominasi pepohonan besar serta rumput rumput kering dan ilalang yang cukup tinggi. Entah berapa kali gue istirahat bahkan sampe tidur siang karena disamping beban yang berat cuaca yang cukup panas serta debu yang berterbangan benar benar membuat fisik drop, terlebih lagi gue lagi terserang batuk pilek. 


jalur tertutup rumput rapat sekali


alang alang setinggi pundak orang dewasa


( Pondok Sumur Gunung Raung Pukul 16.15 )

Perjalanan yang santai menyebabkan gue tiba di Pos 1 yaitu Pondok Sumur jam 16.15 berarti kurang lebih perjalanan gue dari pintu hutan adalah 6 jam :hammer;. Pondok Sumur dengan ketinggian 1105Mdpl ini merupakan pos pendakian yang berbentuk tanah datar yang lumayan luas, biasa untuk mendirikan sekitar 4 - 5 tenda. Pondok Sumur sesuai namanya harusnya disini terdapat sumur tempat air berada. Dipercaya penduduk setempat dulu disini pernah ada seorang pemuda dari gresik yang bertapa dan mengatakan bahwa disini ada sumur tempat dia minum sehari hari selama bertapa. tapi buat gue dan tim disini tidak nampak apapun kecuali pohon dan rumput ilalang yang cukup tinggi.

Disini gue bertemu dengan segerombolan pendaki dari malang, mereka adalah segerombolan orang tua yang biasa mendaki gunung tektok, alias satu hari naik turun. mereka sempat memberikan gue buah jeruk dan beberapa botol minum karena mereka membawa air banyak sekali, dengan senang hati gue menerimanya. tentu konsekuensinya beban gue di pundak makin berat aja, masya Allaaah. tepat pukul 16.30 gue bergerak meninggalkan Pondok Sumur



Pondok Sumur 2035 Mdpl


( Pondok Tonyok Gunung Raung Pukul 20.30 )

Fisik yang cukup drop membuat gue dan tim sampai di pondok tonyok ketika hari sudah gelap, sedangakan kedua temen gue sudah tiba di sini sebelum magrib.maklum dengkul mereka dobel gardan bro, jalanya cepet bener kaya hokage :hammer: ketinggian pondok tonyok adalah 2035Mdpl. sesampainya gue bagi tugas kembali, ada yang diiriin tenda dan masak makan malam. cuaca malam ini cukup cerah dan banyak sekali bintang bertaburan dilangit, dingin yang begitu menusuk mengharuskan gue dan tim membuat api unggun untuk menghangatkan badan malam ini. oiya di pondok tonyok banyak sekali tikus tikus hutan yang nakal, hati hati aja kalo naro bahan makanan diluar tenda, bisa bisa logistik kita dijadikan santapan para tikus tikus nakal itu.sekitar pukul 22.00 sehabis makan malam gue masuk kedalam tenda untuk mengistirahatkan tubuh setelah seharian melakukan pendakian yang cukup melelahkan

Day 4
06 September 2012


( Pondok Tonyok Gunung Raung Pukul 07.30 )

Pagi hari gue kebangun, lantaran tidur gue kurang nyaman karena dataran tempat gue mendirikan tenda sedikit menurun. Setelah temen2 gue bangun segera acara masak memasak dimulai. cuaca pagi ini cukup dingin sehingga kembali gue membuat perapian dari sisa api unggun semalem untuk menghangatkan tubuh ini. pukul 11.16 gue dan tim melanjutkan perjalanan, tujuan kami kali ini adalah Pondok Angin,merupakan pos terakhir pendakian sebelum menuju puncak Gunung Raung


Foto bareng didepan api unggun pagi pagi

santap makan pagi


( Pondok Demit Gunung Raung Pukul 12.00 )

Tak jauh dari pondok tonyok kita akan menemui pos demit, pos yang cukup luas ini konon katanya banyak ditemui mahluk lelembut atau mahluk halus,bisa disebut juga disini tempat berkumpulnya para mahluk halus istilahnya pasar setan, untungnya gue dan tim semalem camp di pondok tonyok yang cuma ada tikus tikus nakal,haha pondok demit ditandai 1 pohon besar yang bercabang 2 seakan membentuk garpu tala.Ketinggian Pondok demit adalah 2215Mdpl. pukul 12.30 gue melanjutkan perjalanan

Pondok Demit dengan pohon mistisnya

( Pondok Mayit Gunung Raung Pukul 14.12 )

Sehabis pondok demit kita akan bertemu dengan pos berikutnya yaitu Pondok Mayit, sebuah pos yang cukup luas dan nyaman untuk mendirikan tenda dibawah pohon pohon pinus. Pondok Mayit konon katanya dinamakan demikian dulu ditemukan seorang mayat bangsawan belanda yang mati gantung diri, dan jenazahnya dimakamkan di pos ini.Sepanjang perjalanan menuju Pondok Mayit banyak dijumpai pohon edelweiss yang sangat indah serta banyak juga pohon arbei yang malang melintang di jalur pendakian, selain itu dibeberapa titik banyak dijumpai pohon dan rumput yang hangus terbakar, bahkan beberapa masih mengeluarkan asap yang berarti tandanya masih baru banget terbakar. ketinggian pondok mayit adalah 2500Mdpl.tak lama gue istirahat disini dan gue pun langsung bergerak kembali pukul 14.28

pondok mayit

Sisa kebakaran hutan


( Pondok Angin Gunung Raung Pukul 15.35 )

Setelah melewati beberapa tanjakan maut gue tiba di Pondok Angin, sebuah pos terakhir pendakian Gunung Raung, disini puncak Gunung Raung terlihat sangt jelas dan disebelah barat tampak juga Gunung Argopuro yang memukau. Segera gue dan tim berbagi tugas kembali, seperti mendirikan tenda, masak dan mencari kayu bakar. sesuai namanya pondok angin memang banyak sekali angin disini, angin tersebut menimbulkan suara gaung maka dari sinilah Gunung ini dimanakan Gunung Raung,karena suaranya yang seakan meraung raung.ketinggian Pondok Angin adalah 2685Mdpl

Banyak burung mati diperjalanan

menjelang magrib gue bertemu dengan 2 pendaki dari bogor, pendaki yang berdengkul racing ini mendaki dari tadi pagi,dan sampai di pondok angin menjelang magrib. super sekali dua orang ini, bayangkan gue aja butuh 2 hari untuk ke pondok angin -__-. setelah semua jadi saatnya gue dan tim menyantap makan malam, dan isitirahat karena esok pagi akan melakukan summit attack.sekitar pukul 21.30 gue masuk kedalam tenda dan beristirahat.oiya malam ini bulan sangat besar sekali,langit bertaburan bintang yang tak terhingga jumlahnya. benar benar pemandangan yang menajubkan, berasa di planetarium brooo



Sepanjang jalur banyak ditumbuh ilalang kering

Sunset di Pondok Angin

Day 5
07 September 2012


( Pondok Angin Gunung Raung Pukul 05.30 )

Udara pagi yang cukup dingin membuat gue malas beranjak keluar dari tenda, rasanya ingin terus bermalas malasan didalam sleeping bag tapi apa daya alarm handphone gue terus berbunyi seakaan memaksa untuk bangun dan bergegas menuju puncak. fyi disini matahari terbit lebih cepat dari Jakarta, mungkin dikarenakan Bondowoso sedikit menyerempet ke waktu Indonesia Bagian Tengah. pukul 06.00   gue bergerak meninggalkan camp menuju puncak Gunung raung..


( Batas Vegetasi Pukul 06.31 )

Setelah berjalan 30 menit dari pondok angin gue tiba di batas vegetasi dengan ketinggian 2790, yaitu batas akhir hutan. disini terdapat batu nisan in memoriam Almarhum Deden Hidayat, dibuat untuk mengenang beliau yang menghembuskan nafas terakhirnya disni. selama perjalanan gue mendaki beberapa gunung sering kali gue menemukan batu nisan seperti ini, yang tak lain selalu mengingatkan gue akan kehidupan serta kematian. tak lupa gue panjatkan doa untuk mendiang deden hidayat agar amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT, setelah itu gue melanjutkan perjalanan


In Memoriam Deden Hidayat

Tidak seperti di Gunung Semeru yang berpasir, jalur menuju puncak Gunung Raung didominasi oleh batuan padat, terlihat dari jauh memang seperti pasir padahal nyatanya tidak sehingga pendakian tidak begitu sulit untuk dilalui hanya saja banyak jurang - jurang tipis yang sangat berbahaya apabila kita kurang menjaga keseimbangan ketika melewatinya


( Puncak Gunung Raung Pukul 07.32 )

Setelah berjalan selama 1,5 jam gue tiba di puncak gunung raung. entah bagaimana gue menjelaskan perasaan gue saat ini yang jelas begitu menggebu gebu perasaan gue ketika berdiri disini, betapa takjubnya gue melihat kawah gunung raung yang begitu besar dan luasnya, betapa takjubnya gue melihat hamparan pemandangan alam yang begitu indah, dimana tampak di bagian utara terlihat tipis pulau bali, disebelah timur terlihat gunung argopuro yang begitu luasnya diselatan tampak hutan hutan yang begitu hijau dan tentu disegala penjuru tersebar awan awan putih nan elok. sujud sukur gue sembahkan kepada Allah SWT yang sudah menjadi ritual kebiasaan gue ketika berdiri di puncak gunung, karena keindahan ini merupakan karunianya yang bisa gue cicipi hingga saat ini. Terima kasih ya Allah terima kasih Indonesia, aku cinta padamu!

Kawah Gunung Raung, tampak di seberang puncak Sejati 

Pose dengan sangsaka merah putih

Tak ada gunung yang terlalu tinggi untuk kita daki bersama

Sekitar 1 jam gue dan tim berada di puncak, dan setelah puas menikmati semua keindahan ini pukul 08.30 gue kembali ke camp site di pondok angin untuk makan pagi lalu melanjutkan perjalanan turun kembali ke pos pendakian


( Pondok Angin Gunung Raung Pukul 09.30 )

Setibanya di pondok angin gue dan tim memasak makanan, semua makanan berat dimasak disini karena pamali bawa logistik tapi gak dihabisin, padahal sih emang aslinya muke rakus semua wahaha. saking magernya habis makan perjalanan turun jadi ngalor ngidul,sehingga baru pukul 12.35 gue dan tim begerak meninggalkan pondok angin


Upi the destroyer sang koki gagal


( Pondok Montor Gunung Raung Pukul 17.30 )

Perjalanan turun tak ayal seperti perjalanan naik, rasa rasanya jauhhhhhhhhh banget, kaki sampe pegel gak ketulungan, kedua jempol kaki gue menghitam karena terlalu lama berjalan menurun. jam setengah enam disini rasanya seperti sudah jam 6 atau setengah 7, gelap sunyi dan menyeramkan, ini gue serius,emang serem banget man! sambil menunggu tukang ojek yang akan menjemput, gue dan tim sempet sempetnya bikin api unggun, karena cuaca cukup dingin disini..sekitar pukul 18.30 para tukang ojek sudah datang. dan gue pun segera melancongi kursi motor untuk menuju rumah bu endang alias basecamp pendakian..ngacir gaaaaaaaaaaaaaaaaaan!! perjalanan naik ojek melewati hutan yang jalurnya gak jelas merupakan pengalaman yang tak terlupakan, lagi asik ngupil tak diduga muke gue terdamprat ranting pohon yang menjuntai :hammer: sampai akhirnya gue mengeluarkan head lamp untuk membantu menerangi jalan. dan extremnya tukang ojek bilang sama gue " gak usah disenterin mas masukin aja senternya, saya sudah hapal jalannya " gue yang masih sayang nyawa tidak memperdulikan perkataanya........


( Basecamp Pendakian Gunung Raung Pukul 19.05 )

Setibanya dibasecamp, gue langsung menuju dapur bu endang untuk memesan makanan dan kopi untuk makan malam. malam ini basecamp sangat ramai para porter, setelah gue cari tau ternyata mereka adalah porter gunung semeru yang sedang membawa tamu asing dari perancis. gila man banyak banget porternya sampai gue gak kebagian lapak tidur di gudang bue endang, dan akhirnya mau gak mau gue harus menggelar tenda kembali di sini -____-...

menunggu makan malam sambil ngopi dan besenda gurau

Day 6
08 September 2012


( Basecamp Pendakian Gunung Raung Pukul 06.00 )

Kebisingan dipagi hari membangunkan gue dari tidur, kebisingan ditimbulkan oleh para porter yang sedang menyiapkan perlengkapan pendakian untuk para tamunya. dengan terpaksa gue pun beranjak keluar dari tenda untuk menghirup udara pagi yang segar ini sedangkan si upi the destroyer masih terlelap dengan dengkurnya didalam tenda, gue pun beranjak kedepan dapur bu Endang yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuk para tamunya. pagi itu gue habiskan mengobrol dengan para porter sambil menghisap sebatang rokok dan segelas teh manis hangat, tak ada kegiatan berarti pagi ini. hari ini gue dan tim berencana untuk melanjutkan perjalanan menuju kawah ijen yang terdapat di Banyuwangi

Para porter dan tamu asing dari perancis sedang bersiap menuju pondok montor menggunakan truk

Menu yang di buat oleh bu Endang pagi hari ini sangat menggugah selera, telor dadar, Kacang Koro khas Bondowoso, sayur asem lengkap dengan tahu tempe ditambah sambal khas Ibu Endang tak cukup 5 menit sudah bersih dilahap gue dan ke 5 rekan gue. Keramahan Bu Endang membuat gue merasa dirumah sendiri, bagaimana tidak makanan serta minuman yang disajikan sangat nikmat dan dapat nambah sesuka hati ini, beliau tidak menarifkan harga sama sekali, hanya keikhlasan dan kesadaran dari kami untuk semua itu, Hal ini gak pernah gue dapetin di basecamp pendakian manapun yang selama ini pernah gue datangi. Terima kasih banyak Bu Endang Terima kasih atas keramahan mu yang takkan pernah kami lupakan...

Tim foto bareng Bu Endang

Tepat pukul 08.30 gue berpamitan kepada Bu Endang untuk melanjutkan perjalanan menuju Kawah Ijen. karena angkutan disini sangat jarang maka gue mencarter sebuah mobil bak.
untuk menuju Kawah Ijen dari Basecamp Pendakian Gunung Raung kita harus menuju ke pertigaan sukosari lalu menumpang sebuah minibus untuk menuju Basecamp Pendakian Kawah Ijen

Ya Allah.........


( Pertigaan Sukosari Bondowoso Pukul 08.50 )

Hanya 20 menit jarak tempuh dari Basecamp Pendakian ke Pertigaan Sukosari menggunakan mobil bak, padahal jarak yang dilalui cukup jauh, bayangkan 20 menit di Jakarta berapa jauh jarak yang dapat kita lalui? Disini gue dibantu oleh bapak supir mobil bak untuk mencarikan bus menuju Kawah Ijen, dikarenakan bus disini kaga ada penunjuknya entah itu tulisan atau nomer. sekitar 10 menitan menunggu bus yang ditunggu tunggu datang, beruntung sekali gue karena kata bapak sopir biasanya bus menuju kawah ijen sangat jarang. setelah menaruh barang diatas bus gue pun bergerak menuju kawah Ijen.


Bus yang akan membawa gue ke Basecamp Pendakian Kawah Ijen

 fyi diatas bus ini ada segala macem barang - barang, dari mulai segelontong galon, berbiji biji gas 3 kilo dan kardus lainya. sepanjang perjalanan temen gue yang tak lain adalah upi the destroyer menghibur diri dengan bernyanyi nyanyi gak jelas, dari mulai dewa sampe punk rock jalanan yang gak ada abis abisnya dia nyanyikan sampe bus behenti di Basecamp Pendakian Kawah Ijen, sungguh menggangu gue tidur dan penumpang lainya yang terdiri dari kakek dan nenek nenek. dasar anak tolol -____-


video
Anak tolol lagi nyanyi


( Basecamp Pendakian Kawah Ijen 14.30 )

Tak diduga ternyata perjalanan dari pertigaan sukosari menuju basecamp pendakian Kawah Ijen cukup jauh sekitar 6 jam gue berada di bus yang sumpek itu :hammer: disamping perjalananya yang jauh jalan yang dilalui cukup rusak parah, bisa dibilang kacau! 


Pose di plang basecamp pendakian Kawah Ijen

Berada disini seperti di pedalaman hutan, tak ada sinyal dari provider apapun :hammer: ditambah angkutan jarang sekali ada yang lewat, jadi buat yang mau kesini ada baiknya request sama sopir bus untuk minta dijemput kembali pada hari yang sudah disepakati atau jika tidak kita bisa menumpang truk pengangkut belerang yang akan berangkat setiap jam 2 sore atauu pula bisa menyewa mobil jeep dengan harga yang tidak murah. sedangkan gue dan tim belum tau pulangnya gimana,haha 


Basecamp pendakian dengan background Gunung Ijen 


Setelah sesi daftar mendaftar saatnya gue dan tim mencari lapak untuk tidur malam ini, karena mager banget harus buka tenda gue dan tim tidur didalam sebuah bangunan yang rusak, bangunan tersebut bekas loket tiket yang sudah tidak digunakan lagi. setelah meletakan barang - barang gue dan tim berbagi tugas, ada yang membersihkan lapak tidur, mencari kayu bakar dan mengambil air untuk memasak kopi. btw disini dingin banget gak boong paraaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!


Maen gaple bersama toni bleng

Oiya disini gue bertemu dengan seorang turis asing dari perancis, dia mempunyai nama Antonio Blanco gue dan tim memanggil dia dengan sebutan tony blank ( baca : toni bleng ) bule ini sudah tinggal di Indonesia sejak 8 bulan lalu, dia stay di Bali untuk Diving disana, untuk menuju kesini dia menggunakan motor sewaan, ini bule cukup gokil, doi sendirian dari bali dengan bermodal peta tulisan tangan yang gak jelas,haha doi gue ajak gabung dengan tim tidur di bangunan rusak karena dia mencari penginapan namun tidak cocok dengan harganya. nih bule bahasa inggrisnya cukup bagus namun sulit dimengerti, mungkin lantaran aksenya perancis ya, tapi yang penting gila gilaan aja dah,haha doi gue ajak main gaple dan gue cekokin kopi asli Bondowoso sampe doi ogah ngopi lagi.hahah menjelang malam gue dan tim beserta toni bleng nongkrong diwarung untuk makan malam


Pose sebelum makan malam


Day 7
09 September 2012



( Bangunan Rusak Kawah Ijen pukul 03.30 )

Bunyi alarm handphone membangunkan gue dari tidur yang terlelap, gue pun membangunkan tim untuk segera mendaki menuju Kawah Ijen. Toni Bleng yang tidur disamping gue sempet ngedumel sama gue karena dengkuran gue membuat dia gak bisa tidur,haha maklum suara gue yang hilang pas turun dari Gunung Raung membuat gue tidur selalu mendengkur. cuaca pagi ini cukup cerah dengan adanya bintang dan bulan yang menerangi jalan, suhu disini sangat dingin sekitar 12 - 13 derajat celcius. setelah menitipkan peralatan di basecamp pendakian pukul 04.00 gue bergerak meninggalkan basecamp pendakian.Jalur menuju Kawah Ijen terbilang cukup mudah, hanya jalur tanah berdebu datar menanjak sampai di puncak kawah. 


Abel pose di Jalur pendakian Kawah Ijen

Tampak Gunung Raung dari Jalur Pendakian


( Kawah Ijen Pukul 06.00 )

Gue tiba di puncak Kawah Ijen, pemandangan yang menakjubkan kembali tersaji disini, suhu disini semakin dingin ditambah dengan angin yang cukup kencang,brrr di belakang jalur pendakian tampak Gunung Raung yang kemarin baru saja gue dan tim daki, didepan ada dapur kawah yang sedang mengepul  membuat pagi ini begitu indah sekali dinikmati. fyi disini kebanyakan bule sampai gue merasa gue ini di Indonesia apa bukan ya??? tak lama berada disini pukul 07.00 gue kembali turun menuju Basecamp Pendakian



Dapur Belerang

Penambang Belerang Kawah Ijen

Di perjalanan turun banyak ditemui pepohonan Arbei yang sedang matang matangnya, tak sedikit perjalanan turun gue dan tim ngetem untuk sekedar memetik buah arbei yang merah dan manis ini, perut sampe kenyang gara gara makan ginian doang,haha


Monyet pemetik Arbei,haha


Bule bule pada penasaran dan ikut nyobain

Ditengah perjalanan turun terdapat sebuah pelelangan Belerang, disni para penambang menjual hasil tambangnya kepada pengepul, 1kg belerang dihargai 650perak bayangkan begitu bahaya dan berat belerang yang dipikulnya per kilo hanya diharga 650perak, keras sekali kehidupan penambang disini,di tempat pelelangan ini menjual pernak pernik yang terbuat dari belerang


Pelelangan Belerang


Pernak Pernik dari belerang seharaga 10rb
.
Tepat pukul 08.30 gue tiba di Basecamp Pendakian, setelah packing gue dan tim mencari warung untuk sarapan pagi sambil mencari cari tahu bagaimana caranya gue bisa kembali ke Bondowoso lagi, karena nantinya dari Bondowoso gue akan lanjut ke Surabaya baru pulang ke Jakarta. tapi disini benar benar tidak ada angkutan yg lalu lalang, yang ada hanya mobil jeep sewaan para turis asing, sempet gue menanyakan kepada mereka berapa harga untuk menyewa jeep sampai ke jalan Utama yang kurang lebih sekitar 14kiloan. namun tarif yang mereka tawarkan terlalu tinggi, sedangkan uang gue dan tim sudah menipis sekali, bayangkan dengan jarak 14 kilo mereka menarifkan 450rb, coba kalau dibandingkan dengan sewa jeep di semeru, dengan harga yang sama tapi jarak yang ditempuh lebih jauh sekali.setelah tanya sana sini akhirnya dapet pencerahan bahwa gue bisa menumpang truck pengangkut belerang ke Banyuwangi nanti dari banyuwangi lanjut surabaya lalu baru ke Jakarta. Truck berangkat jam 14.00. banyak waktu yang gue habiskan dengan ngeliatin bule bule, dari mulai bule yang seksi. orang tua, sampe bule yang cipokan,hahah


Pelataran parkir Basecamp Pendakian

Saking luntang lantungnya gue dan tim coba ngobrol sama pemuda setempat, setelah ngobrol panjang lebar gue mencoba menanyakan ke dia bisa gak anterin kita ber6 kejalan utama naik motor, setelah nego harga dia mengiyakan dan akan memanggil temanya untuk mengangkut gue ber6 menggunakan sepeda motor. satu jam telah berlalu pemuda ini tak kunjung balik entah kenapa dan apa yang terjadi gue gak memperdulikannya karena dengan beruntungnya gue dapet tumpangan mobil bak sampai Bondowoso oleh pemuda yang sedang jalan jalan kesini, serentak gue ber6 mengucapkan Alhamdulillaaaah. dengan menumpang gini otomatis gue bisa mengirit waktu dan uang, karena jarak dari kawah ijen ke Bondowoso sangatlah jauh, kurang lebih 6 jam perjalanan, sekitar pukul 12.30 gue bergerak meninggalkan kawah ijen.

Mobil tumpangan gue dan tim


( Pertigaan Sukosari Kabupaten Bondowoso Pukul 16.23 )

Sesampainya di pertigaan sukosari pemuda yang memiliki nama Mas Dian ini menawarkan gue dan tim untuk menginap di rumahnya, karena jam segini angkutan menuju terminal Bondowoso sudah tidak ada, gue dengan perasaan gak enak pun menerima tawaranya, kata dia " udah mas itung nambah nambah persaudaran " sungguh baik sekali Mas Dian ini, udah gue ditumpangin mobil dari Kawah Ijen di ajak nginep dirumahnya pula. Alhamdulillah ya Allah masih banyak orang yang ramah di muka bumi ini :), Rumah Mas dian terletak tak jauh dari pertigaan sukosari beliau adalah anak dari kepala desa di kecamatan ini, sesampainya dirumah gue dikenalkan dengan orang tua beliau, sungguh ramah keluarga bapak kades ini, sampai sampai gue dipinjemin laptop buat online facebook, sayangnya batre kamera sudah habis jadi tidak ada dokumentasi gue dan tim selama dirumah bapak kades ini. didepan rumah Mas Dian terdapat lahan luas yang dijadikan pembibitan Pohon Sengon, ya Mas Dian ini akan berinvestasi pohon sengon, banyak sekali bibit yang dia rawat dan bisa dibayangkan pundi pundi rupiah yang akan didapatkan setelah pohon sengon ini ditanam dan di panen :matabelo:



Day 8
10 September 2012


( Rumah Bapak Kades Pukul 07.00 )

Pagi ini entah kenapa gue kangen rumah,haha rasanya gue sudah melalui perjalanan yang panjang dan segudang cerita beberapa hari ini. Setelah bersih bersih dan packing barang gue berencana pamitan sama Mas Dian dan keluarganya untuk pulang ke Jakarta, tapi Bapak Kades menyuruh kami untuk diantar sama Mas Dian sampai di Terminal Bondowoso,padahal niat gue dan tim bakal naik angkutan dari pertigaan sukosari yang tak jauh dari rumah bapak kades ini. sungguh gue merasa gak enak banget, pernah gak sih lo merasa kalo orang terlalu baik jadi gak enak? ya gue merasakan itu, gue merasa cuma ngerepotin tanpa bisa ngasih imbalan yang berarti. tapi inilah realita yang ada di keluarga Mas Dian dengan ketulusan dan tanpa penuh curiga menerima kami yang baru saja dikenalnya singkat waktu kemarin. Kebaikan orang akan selalu gue kenang dan gue berjanji dalam hati apabila Mas Dian dan keluarga singgah di Jakarta bakal gue Jamu seperti dia menjamu gue dan tim di Rumahnya. pukul 10.00 gue bergerak meninggalkan rumah bapak kades menuju Terminal Bondowoso 


( Terminal Bondowoso Pukul 10.30 )

Sesampainya di terminal Bondowoso gue dan tim berpamitan dengan Mas Dian dan kerabatnya, gue dan tim cuma bisa ngasih tanda terima kasih seadanya, yang gue yakin gak bakal bisa membalas segala kebaikan Mas Dian dan keluarga. terima kasih Mas Dian dan Keluarga Terima Kasih Bondowoso atas segala keramahan dan keindahan mu. pukul 10.50 Bus yang gue tumpangi bergerak meninggalkan Terminal.

Foto bareng Mas Dian( baju merah sebelah kiri) di Terminal Bondowoso,

Perjalanan dari terminal Bondowoso menuju Surabaya tak senyaman perjalanan gue dari Surabaya ke Bondowoso 7 hari yang lalu, kalo 7hari yang lalu gue kesini menggunakan bus yang baru keluar sebulan dari pabrik, kali ini gue naik bus yang umurnya tinggal 1 bulan lagi,hahaha gak usah dibayangin kaya deh keadaanya, yang penting gue sampe rumah dengan selamat, lagian kantong juga udah menipis makanya mengirit pengeluaran dengan cara naik bus butut.

Bus Jurusan Bondowoso - Surabaya


( Terminal Bungur Asih Surabaya Pukul 17.20)

Kurang lebih 7jam perjalanan yang gue tempuh dari Bondowoso ke Surabaya, sesampainya gue langsung mencari tiket bus pulang, tapi apa daya semua tiket SOLD OUT! luntang lantunglah gue di Terminal Surabaya ini, setelah didiskusikan dengan tim  maka diputuskan tim akan naik bus ke Jogja dan akan lanjut ke Jakarta dari sana. setelah tanya sana sini Alhamdulillah bus ke Jogja masih banyak dan sistemnya gak pake beli tiket diloket, alias langsung bayar diatas. bus akan bergerak meninggalkan Terminal Bungur Asih pukul 20.00, armada bus yang gue tumpangi adalah Bus Cepat Eka dengan kelas Eksekutif, walau duit nipis tapi maksain bener naik nih bus, karena kapok naik bus dari Bondowoso - Surabaya yang super panas dan pengep ditambah muka udah kebakar memerah sisa pendakian kemarin. tetapi setelah dihitung - hitung apabila gue harus stay di Surabaya dan naik bus dari Surabaya esok hari dibandingkan gue ke Jogja lalu lanjut ke Jakarta jauh lebih murah dan dapet makan pula :D, so masih ada sisa duit buat jajan jajan dari selisih harga tersebut. sesuai namanya Bus  ini jalannya emang cepet banget -_-, gile sepot jantung gue ada didalamnya.kacoooo kacooooooooooo!


Bus Cepat Eka

Day 9
11 September 2012


( Terminal Giwangan Yogyakarta Pukul 03.00  )

Gue dan tim tiba di Terminal Giwangan, gak tau mau ngapain karena jam segini terminal sepi loketpun pada belom buka. kerjaan gue cuma ngeliatin bus dateng dan liatin orang turun.krik krik banget. loket dibuka sekitar pukul 06.00 

Welcome to Yogyakarta

Gembel  Terminal Giwangan

Setelah loket penjualan tiket dibuka gue dan tim membeli tiket armada bus Sinar Jaya. disini gue berpisah dangan seorang rekan gue, karena doi mau balik kekampung yang kebetulan kampungya di Yogyakarta. Sambil menunggu bus datang gue dan tim berjalan jalan keliling terminal sekedar membunuh waktu yang tersisa, kocaknya aksen bicara gue dan temen temen belom ilang, lantaran berapa hari kemaren ngomong dengan logat madura.haha pukul 08.30 Bus yang gue tumpangi bergerak meninggalkan Terminal Yogyakarta. bye bye Yogyakarta.......

Pagi hari di terminal Giwangan Yogyakarta

Bus yang membawa gue pulang ke Jakarta

Day 10
12 September 2012


( Terminal Lebak Bulus Jakarta Pukul 00.05 )

Ke Jakarta aku kan kembaliiiiiii walaupun apa yang kan terjadiiiiii, ya gue sudah tiba di tanah kelahiran gue JAKARTA, Kota yang besar dengan segudang kisah dan cerita didalamnya kini gue telah kembali, disini gue berpisah dengan rekan gue untuk kembali ke rumah masing masing dengan membawa segudang pengalaman dan cerita. bye guys see you next trip!!

" End of Seven Summit Java Part 3 "



Terima kasih gue ucapkan kepada:

* Allah SWT
* Kedua Orang Tua gue
* Samastha Buana
* Kaskus OANC
* Bu Endang 
* Mas Dian dan Keluarga


* Rekan seperjalanan
   1.Bang Rudi
   2.Atenk
   3.Upi 
   4.Aji
   5.Abel

Anggaran Biaya ( anggaran diluar ongkos makan dan logistik selama perjalanan ) :

Jakarta - Surabaya via Kereta api Kertajaya                     :Rp.43.500
Stasiun Pasar Turi - Stasiun Gubeng via Carter                 :Rp.10.000
Stasiun Gubeng - Terminal  Bungur Asih via Angkot           :Rp. 4.000
Terminal Bungur Asih sby  - Terminal Bondowoso              :Rp.46.000
Terminal Bondowoso - Basecamp pendakian via carter       :Rp.25.000
Basecamp Pendakian - Pondok Montor via Ojek                 :Rp.30.000
Pondok Montor - Basecamp Pendakian via Ojek(malem)     :Rp.50.000
Retribusi dan makan di Basecamp Pendakian                     :Rp.60.000
Basecamp Pendakian - Pertigaan sukosari via carter          :Rp 4.000
Pertigaan Sukosari - Kawah Ijen                                      :Rp.30.000
Terminal Bondowoso - Terminal Bungur Asih sby              :Rp.37.000
Terminal Bungur Asih sby - Terminal Giwangan Jogja       :Rp.65.000
Terminal Giwangan jogja - Terminal lebak bulus Jkt         :Rp.70.000
----------------------------------------------------------------------------------- +
TOTAL                                                   Rp.462.512


Foto Selengkapnya dapat dilihat di :

  1. Gunung Raung
  2. Kawah Ijen
  3. Gunung Raung dan Kawah Ijen
NB: Budayakan comment setelah membaca ya :D



salam lestari


Read More... - Menjelajahi Gunung Raung + Kawah Ijen #Seven Summit Java Part 3